MENDAMBA GENERASI RABBANI

Saat kegelapan menerkam bumi, kerinduan apa yang paling didamba kecuali semburat cahaya fajar yang menghangatkan kehidupan. Saat tulang semakin rapuh dan pandangan merabun samar, hasrat apa yang paling mendera kecuali lahirnya generasi rabbani yang mampu mewujudkan mimpi-mimpi hamba yang tertunda.

Hamba merindukan generasi yang seluruh jiwanya diterpa cahaya cinta. Generasi yang memiliki harga diri, cerdas , dan tangguh bagaikan pohon yang akar-akarnya menghujam ke bumi, batangnya kokoh menjulang menggapai langit. Betapa hamba merintihkan hsrat tak terperikan, mendamba generasi yang semangatnya bagaikan deburan ombak samudra yang tak pernah lelah menerpa pantai. Generasi yang di hatinya ada nyala api untuk mengubah tanah lempung menjadi benteng-benteng peradaban. Generari yang mampu mengacungkan obor rahmatan lil alamin, yang menerangi orang-orang yang tersesat menuju jalan ke akhirat.

OhTuhanku, hamba telah hampiri pelosok peradaban, telah hamba saksikan derita manusia yang terbelenggu angan-angan. Telah hamba saksikan raja dan orang berharta yang tersesat dalam tipuan. Mereka menyangka kehidupan adalah suka cita, padahal ia hanya perjalanan yang akan berakhir di stasiun duka cita. Mereka menyangka, pertunjukkan ini akan terus berlangsung tanpa ujung. Padahal, beberapa saat kemudian tirai panggung akan tertutup, penjaga gedung menghardik para pengunjung, pertunjukkan telah usai.

Berulang kali hamba saksikan prosesi pemakaman. Para pengantar menghamburkan air mata, mencabik jiwanya yang hampa merintihkan luka hatinya yang tercabik. Kemudian, hamba saksikan tidak satu pun dari para pengantar jenazah, tidak juga anak-anak dan keluarganya yang terus menunggu tanah kuburan. Mereka pergi meninggalkan jenazah yang kini terkubur dalam lubang-lubang yang sempit.

Wahai para penempuh jalan kematian. Kinki rumah mereka hanya sebuah lubang yang pengap. Jaraknya berdekatan tetapi jiwanya berjauhan, tak mampu bertegur sapa apalagi saling mengunjungi. Musuhmu, sahabatmu, dan para orang-orang terdahulu kuburnya kini saling berdampingan. Tetapi, mereka semua bisu, masing-masing beku menunggu. Oh, alangkah singkatnya kehidupan, alangkah cepatnya waktu berlalu. Alangkah sedikitnya bekal untuk menempuh jalan yang panjang. Rumah mereka yang mewah, telah semakin lapuk.

Lampu kristal berbinar kini telah pudar. Nama yang menjulang, hanya sesaat dikenang, kemudian dilupakan, muspra, lindap senyap. Nama dan potret telah dicoret dari arsip kesibukan. Hidup hanyalah menunda kekalahan, dan maut selalu tampil menjadi pemenang.

Oh Tuhanku, bahasa apa yang paling indah menggugah. Kalimat seperti apa yang paling menyentuh untuk menggetarkan hati manusia yang lupa ke mana arah pulang.

Oh Tuhanku, lidah hamba semakin kelu, tubuh hamba mulai kaku, tapi hamba tak henti mengadu, Tuhanku berkatilah hamba, lahirnya generasi baru yang dalam jiwanya bersemayam api jihhad penebar harumnya cinta. Menggubah dunia dengan prestasi menjadikan hidupnya penuh arti, bila kelak datang hari berjumpaan, basahkan bibisnya mengucap kalimat kerinduan kepada-Mu tentu. Laa ilaha ilallah…..

About choiruddinasik

seorang musafir fana

Posted on Maret 24, 2012, in IHSAN and tagged . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: