Kita Butuh Orang Lain

Ketika bangunan menjulang baru berdiri. Pesta digelas memeluk decak kekaguman. Tetapi, adakah mereka bertanya, dimanakah wahai para kuli bangunan? Padahal, di antara para kuli itu mungkin ada yang terjatuh dari lantai tujuh, mati tanpa asuransi, meninggalkan istri dan anaknya tanpa harapan pasti. Pemilik bangunan tak pernah mencatat jasa apalagi derita mereka.

Ketika kita sedang mengendarai kendaraan bersama keluarga, melaju dengan kecepatan tinggi, dan beberapa meter di hadapan ada lubang menganga siap menghadang. Tetapi ada saja orang yang tidak kita kenal menancapkan ranting pepohonan diatas lobang itu sehingga ratusan kendaraan selamat karena lubang itu telah diberi tanda. Wahai siapakah gerangan orang yang memberi tanda di lubang itu.

Sadarlah bahwa sesungguhnya tidak ada satu pun kenikmatan tanpa jasa-jasa orang lain yang bahkan tidak pernah kita kenal. Dialah “orang-orang lemah” yang telah berjasa menapaki jalan panjang untuk menghantarkan sepiring nasi diatas meja hidangan. Pantaslah Rasululloh saw. Bersabda, “sesungguhnya yang akan menolong dan memberi rezeki kalian adalah orang-orang lemah diantara kalian”.  Sebuah pesan suci agar kita tidak melupakan jasa dan keberadaan mereka.

Kita lupa, siapa gerangan paraji, dukun beranak, atau bidan yang membantu pesalinan ketika kita lahir. Kitapun sudah lupa siapa nama guru SD kelas satu. Padahal, dialah manusia pertama yang mengajarkan huruf dan angka.

Kita lupa, betapa sepiring nasi yang terhidang diatas meja itu, mempuyai kisah yang sangat panjang. Sejak disemai benihnya di sawah oleh para petani. Setelah panen, gabah itu diangkut di bahu-bahu mereka untuk dibawa ke penggilingan padi, diangkut oleh sopir truk, diangkat pada kuli di pasar, dipajan pada penjual beras, dimasak pembantu rumah, dan kini terhidang diatas meja.

Pantaslah, Allah SWT berfirman bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang menyadari bahwa pada harta mereka ada hak orang yang meminta mauppun yang tidak meminta (Adz-Dzariaat : 19). Pantaslah Allah SWT menghardik orang-orang yang asyik tenggelam dalam ritual sebagai pendusta agama, bahkan mengancam orang yang shalat dengan neraka Wail karena mereka tidak peduli dengan kaum mustad’afin. Kita diminta untuk bersederkah, mengulurkan tangan membantu meringankan penderitaan orang lain, baik secara terang-terangan atau bersembunyi. Ini semua karena kita diajarkan untuk menjadi manusia yang peduli pada yang lain.

Allah telah menciptakan segala sesuatunya secara berpasangan untuk saling menghargai dan menghormati pasangannya masing-masing. Tidak mungkin ada langit, tanpa bumi. Tidak akan ada presiden tanpa rakyat. Direktur tanpa karyawan. Penjual tanpa pembeli. Maka kehadiran orang lain adalah berkah Ilahi. Kehadiranku, kebahagiaanku, kedudukanku menjadi tidak berarti tanpa kehadiran orang lain. Inilah salah satu inti ajaran langit yang menghantarkan kita untuk memuliakan manusia.

Terkenang kita akan pesan Baginda Rasulullah saw. Dalam khutbatul wada, “sesungguhnya darahmu, hartamu, serta kehormatanmu itu suci…” umat islam diminta untuk menghargai kehidupan (damm-an), harta (amwaal), dan kehormatan (A’rada), yang dalam bahasa sekarang diterjemahkan sebagai, life, property, and dignity. Inilah ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan yang justru telah direncanakan Rasulullah saw. Jauh sebelum dikenalnya Declaration of Human Right.

Menghargai lingkungan hidup, memelihara property negara dan memelihara harga diri kehormatan manusia, siapa dan apa pun status mereka. Karena, kita tidak bisa hidup sendiri. Ajaran kemanusiaan yang telah melambungkan panji-panji Isalam di dalam peradaban manusia.

Ketika seseorang mangkat. Para pengiring jenazah didera haru. Dan setelah prosesu doa sambutan usai berlalu, handai taulan dan para kerabat itu akhirnya pulang juga ke rumahnya masing-masing. Lantas, adakah di antara kita yang teringat siapakah gerangan para penggali kubur?

About choiruddinasik

seorang musafir fana

Posted on Maret 6, 2012, in IHSAN. Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: