Pemikiran

Allah Subhanahu Wataala menciptakan manusia kemuka bumi ini adalah suatu ujian. Siapa yang beriman dan siapa yang terlaknat akan benar dikelompokkan.

 

Kayalah yang Sesungguhnya

Seringkali kita berpikir, bagaimana caranya agar kita bisa kaya, tapi sedikit diantara kita memikirkan arti kaya yang sebenarnya. Kebiasaan kita sangat menentukan arah yang akan kita lalui. Kebiasaan keseharian dan pola pikir menentukan juga dalam setiap pilihan yang kita pilih. Maka alangkah bagusnya bila kita memahami arti kaya yang sesungguhnya, berikut inspirasi menjadi kaya yang sesungguhnya :

1. Kebiasaan Mengucap Syukur

Kebiasaan istimewa yang bisa mengubah hidup selalu menjadi lebih baik. bahkan agama mendorong kita bersyukur tidak saja untuk hal-hal yang baik, tapi juga dalam kesusahan dan hari-hari yang buruk. ada rahasia besar dibalik ucapan syukur yang sudah terbukti sepanjang sejarah. Hellen Keller yang buta dan tuli sejak usia dua tahun, telah menjadi orang yang terkenal dan dikagumi di seluruh dunia. salah satu ucapannya yang banyak memotivasi orang adalah “Aku bersyukur atas cacat ini, aku menemukan diriku, pekerjaanku dan Tuhanku”. Memang sulit untuk bersyukur, namun kita bisa belajar secara bertahap. Mulailah mensyukuri kehidupan, mensyukuri berkat, kesehatan, keluarga, sahabat, dan sebagainya. Suatu saat nanti Anda bahkan bisa bersyukur atas kesusahan dan situasi yang buruk.

2. Kebiasaan Berpikir Positif

Hidup kita dibentuk oleh apa yang sering kita pikirkan. Kalau selalu berpikiran positif, kita cenderung menjadi pribadi yang positif. Ciri-ciri dari pikiran yang positif selalu mengarah kepada kebenaran, kebaikan, kasih sayang harapan dan suka cita. Sering-seringlah memantau apa yang sedang Anda pikirkan. Kalau Anda terbenam dalam pikiran negatif, kendalikanlah segera ke arah yang positif. Jadikanlah berpikir positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif sebagai kebiasaan dan lihatlah betapa banyak hal-hal positif yang akan Anda alami.

3. Kebiasaan Berempati

Kemampuan berhubungan dengan orang lain merupakan kelebihan yang dimiliki oleh banyak orang sukses. Dan salah satu unsur penting dalam berhubungan dengan orang lain adalah empati, kemampuan atau kepekaan untuk memandang dari sudut pandang orang lain. Orang yang empati bahkan bisa merasakan perasaan orang lain, mengerti keinginannya dan menangkap motif dibalik sikap orang lain. Ini berlawanan sekali dengan sikap egois, yang justru menuntut diperhatikan dan dimengerti orang lain. Meskipun tidak semua orang mudah berempati, namun kita bisa belajar dengan membiasakan diri melakukan tindakan-tindakan yang empatik. Misalnya, jadilah pendengar yang baik, belajarlah menempatkan diri pada posisi orang lain, belajarlah melakukan apa yang Anda ingin orang lain lakukan kepada Anda, dan sebagainya.

4. Kebiasaan Mendahulukan yang Penting

Pikirkanlah apa saja yang paling penting dan dahulukanlah. Jangan biarkan hidup Anda terjebak dalam hal-hal yang tidak penting sementara hal-hal yang penting terabaikan. Mulailah memilah-milah mana yang penting dan mana yang tidak, kebiasaan mendahulukan yang penting akan membuat hidup Anda efektif dan produktif dan meningkatkan citra diri Anda secara signifikan.

5. Kebiasaan Bertindak

Bila Anda sudah mempunyai pengetahuan, sudah mempunyai tujuan yang hendak dicapai dan sudah mempunyai kesadaran mengenai apa yang harus dilakukan, maka langkah selanjutnya adalah bertindak. Biasakan untuk menghargai waktu, lawanlah rasa malas dengan bersikap aktif. Banyak orang yang gagal dalam hidup karena hanya mempunyai impian dan hanya mempunyai tujuan tapi tak mau melangkah.

6. Kebiasaan Menabur Benih

Prinsip tabur benih ini berlaku dalam kehidupan. Pada waktunya Anda akan menuai yang Anda tabur. Bayangkanlah, betapa kayanya hidup Anda bila Anda selalu menebar benih ‘kebaikan’. Tapi sebaliknya, betapa miskinnya Anda bila rajin menabur keburukan.

7. Kebiasaan Hidup Jujur

Tanpa kejujuran, kita tidak bisa menjadi pribadi yang utuh, bahkan bisa merusak harga diri dan masa depan Anda sendiri. Mulailah membiasakan diri bersikap jujur, tidak saja kepada diri sendiri tapi juga terhadap orang lain. Mulailah mengatakan kebenaran meskipun mengandung risiko. Bila Anda berbohong, kendalikanlah kebohongan Anda sedikit demi sedikit.

Hakikat Cinta

Cinta adalah bagian dari fitrah, orang yang kehilangan cinta dia tidak normal tetapi banyak juga orang yang menderita karena cinta. Bersyukurlah orang-orang yang diberi cinta dan bisa menyikapi rasa cinta dengan tepat. Hikam: “Dijadikan indah pada pandangan manusia, kecintaan kepada apa-apa yang diinginkan yaitu wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup didunia dan disisi Allah tempat kembali yang baik.” (Al-Qur’an: Al-Imron ayat 14) Cintamu kepada sesuatu menjadikanmu buta dan tuli. (HR.Abu Dawud dan Ahmad) Cinta memang sudah ada didalam diri kita, diantaranya terhadap lawan jenis. Tapi kalau tidak hati-hati cinta bisa menulikan dan membutakan kita Cinta yang paling tinggi adalah cinta karena Allah cirinya adalah orang yang tidak memaksakan kehendaknya.

Tapi ada juga cinta yang menjadi cobaan buat kita yaitu cinta yang lebih cenderung kepada maksiat. Cinta yang semakin bergelora hawa nafsu, makin berkurang rasa malu. Dan inilah yang paling berbahaya dari cinta yang tidak terkendali Islam tidak melarang atau mengekang manusia dari rasa cinta tapi mengarahkan cinta tetap pada rel yang menjaga martabat kehormatan, baik wanita maupun laki-laki.

Kalau kita jatuh cinta harus hati-hati karena seperti minum air laut semakin diminum semakin haus. Cinta yang sejati adalah cinta yang setelah akad nikah, selebihnya adalah cobaan dan fitrah saja Cara untuk bisa mengendalikan rasa cinta adalah jaga pandangan,jangan berkhalwat berdua-duaan, jangan dekati zina dalam bentuk apapun dan jangan saling bersentuhan.

Bagi orang tua yang membolehkan anaknya berpacaran harus siap-siap menanggung resiko. Marilah kita mengalihkan rasa cinta kita kepada Allah dengan memperbanyak sholawat, dzikir, istighfar dan sholat sehingga kita tidak diperdaya oleh nafsu karena nafsu yang akan memperdayakan kita. Sepertinya cinta padahal nafsu belaka.

Gadjah Mada seorang muslim?

Sebuah tulisan ternyata bisa mengisyaratkan kejadian masa lalu. Itulah yang kita sebut sejarah. Dari sanalah kita bisa tahu banyak hal. Kita bisa mengetahui sejarah masa lalu dari bukti-bukti yang tertulis baik berupa buku, atau tanda-tanda lain seoerti tulisan pada batu nisan, logo, koin dan lain sebagainya. Namun adakalanya, sejarah menjadi rusak akibat ulah sekelompok orang yang tidak bertanggungjawab, yang lebih mementingkan kepentingannya sendiri meskipun harus rela menanggalkan kebenaran.

Seperti itu pula sebagian sejarah yang mewarnai bangsa ini, indonesia. Dahulu kala, sebelum bangsa indonesia lahir, ada sebuah kerajaan hebat di nusantara yang bernama majapahit. Maka ingatan kita langsung tertuju pada seorang patih gajah mada yang terkenal dengan “sumpah palapa”-nya. Ia berjanji tidak akan berhenti sebelum bisa mempersatukan seluruh kerajaan-kerajaan di nusantara. Namanya kini diabadikan menjadi nama salah satu universitas negeri di yogyakarta. Lalu, apa yang bisa nada ingat tentang kerajaan majapahit dan patih gadjah mada tersebut? Dalam buku-buku sejarah yang kita baca semasa sekolah dulu, dijelaskan bahwa majapahit adalah sebuah kerajaan hindu terbesar di nusantara. Wilayahnya meluas bahkan sampai ke asia tenggara. Namun, benarkan demikian?

Anda akan mendapatkan sebuah fakta mengejutkan tentang hal ini. Tahukah anda, ternyata kerajaan majapahit yang selama ini dikenal sebagai kerajaan hindu terbesar di nusantara sebenarnya adalah kerajaan muslim. Yang lebih mengejutkan lagi, patih gajah mada yang terkenal itu adalah seorang muslim. Pendiri kerajaan majapahit, raden wijaya juga seorang muslim. Tentu saja, hal ini semakin menguatkan bukti bahwa kerajaan ini memang merupakan kerajaan muslim terbesar di nusantara.

Pernyataan-pernyataan ini tentu bukan sekedar omong kosong belaka. Lembaga Hikmah dan Kebijakan Publik (LHKP) Pengurus Daerah Muhammadiyah yogyakarta sengaja melakukan penelitian untuk melakukan kajian ulang terhadap sejarah majapahit. Setelah sekian lama berkutat dengan beragam fakta-data arkeologis, sosiologis dan antropologis, maka tim ini kemudian menerbitkan hasil penelitiannya dalam sebuah buku awak berjudul “Kesultanan Majapahit, Fakta Sejarah yang Tersembunyi”; berikut diantara hasil penelitian.

  1. Ditemukan atau adanya koin-koin emas Majapahit yang bertuliskan kata-kata ‘La Ilaha Illallah Muhammad Rasulullah’.Sebagaimana kita ketahui, koin merupakan sebuah alat pembayaran resmi yang berlaku di sebuah wilayah kerajaan. Maka sungguhlah mustahil jika dikatakan bahwa sebuah kerajaan Hindu memiliki koin yang bertuliskan kaimat tauhid seperti ini.
  2. Pada batu nisan Syaikh Maulana Malik Ibrahim (Sunan Gresik) terdapat tulisan yang menyatakan bahwa beliau adalah seorang Qadhi (hakim agam islam) kerajaan Majapahit. Hal ini menunjukkan bahwa Agama islam merupakan agam resmi kerajaan tersebut.
  3. Lambang kerajaan Majapahit berupa delapan sinar matahari dengan beberapa tulisan arab yakni sifat, asma, ma’rifat, Adam, Muhammad, Allah, tauhid, dan Dzat. Mungkinkah sebuah kerajaan Hindu memiliki logo/lambang resmi bertuliskan kata-kata arab seperti ini?
  4. Pendiri kerajaan Majapahit yakni Raden Wijaya ternyata seorang muslim. Beliau adalah cucu dari Prabu Guru Dharmasiksa, seorang Raja Sunda sekaligus ulama islam Pasundan yang hidup selayaknya seorang sufi. Sedangkan neneknya merupakan seorang muslimah keturunan penguasa Kerajaan Sriwijaya. Meskipun Raden Wijaya bergelar Kertarajasa Jayawardhana (Menggunakan bahasa sansekerta yang lazim digunakan saat itu), tidak lantas menjadikan beliau seorang pemeluk Hindu. Gelar seperti ini (menggunakan bahasa sansekerta) ternyata masih juga digunakan oleh raja-raja muslim jawa zaman sekarang seperti Hamengkubuwono dan Paku Alam di Yogyakarta serta Pakubuwono di Surakarta/Solo.
  5. Patih kerajaan Majapahit yang terkenal dengan Sumpah Palapa-Nya, Patih Gadjah Mada juga seorang muslim. Nama aslinya adalah Gaj Ahmad. Hanya saja orang jawa saat itu sulit mengucapkan nama tersebut. Mereka menyebutnya Gadjahmada untuk memudahkan pengucapan dan belakang ditulis terpisah menjadi Gadjah Mada. Kerajaan Majapahit mencapai puncak keemasan pada masa Patih Gaj Ahmada. Konon kekuasaannya sampai ke Malaka. Setelah mengundurkan diri dari kerajaan, Patih Gaj Ahmada lebih dikenal dengan sebutan Syaikh Mada oleh masyarakat sekitar. Pernyataan ini diperkuat dengan bukti fisik yaitu pada nisan makam Gaj Ahmada di Mojokerto terdapat tulisan ‘La Illaha Illallah Muhammad Rasulullah’.

Itulah beberapa fakta mengejutkan yang tersembunyi dari kerajaan Majapahit. Mengapa bisa seperti ini?… Kita tahu, kawasan nusantara saat itu dikuasai penjajah Belanda yang kafir. Dalam konteks Majapahit, Belanda berkepentingan untuk menguasai Nusantara yang mayoritas penduduknya adalah muslim. Untuk itu, diciptakanlah pemahaman bahwa Majapahit yang menjadi kebanggaan masyarakat Indonesia adalah kerajaan Hindu dan Islam masuk ke Nusantara belakangan dengan mendobrak tatanan yang sudah berkembang dan ada dalam masyarakat.

Satu lagi, tokoh menakjubkan yang mewarnai bangsa ini ternyata seorang muslim. Setelah Kapitan Pattimura, pahlawan dari Maluku yang ternyata seorang muslim (nama aslinya Ahmad Lussy, bukan Thomas Matulesy), Laksamana Cheng Ho dari Tiongkok yang melakukan pelayaran besar-besaran di dunia (termasuk indonesia) yang juga seorang muslim (namanya menjadi Muhammad Cheng Ho), kini giliran Patih Gajah Mada yang diketahui seorang muslim (nama aslinya Gaj Ahmada). Hal ini membuktikan bahwa sebuah kebenaran suatu saat pasti akan terungkap meskipun telah ditutupi oleh kebohongan dalam jangka waktu yang lama. Wallahu A’lam.

‘pondok hati’

Yang kau lupakan

Ketika bangunan menjulang baru berdiri. Pesta digelar memeluk decak kekaguman. Tetapi, adakah mereka bertanya, dimanakah wahai para kuli bangunan? Padahal, di antara para kuli itu mungkin ada yang terjatuh dari lantai tujuh, mati tanpa asuransi, meninggalkan istri dan anaknya tanpa harapan pasti. Pemilik bangunan tak pernah mencatat jasa apalagi derita mereka.

Ketika kita sedang mengendarai kendaraan bersama keluarga, melaju dengan kecepatan tinggi, dan beberapa meter di hadapan ada lubang menganga siap menghadang. Tetapi ada saja orang yang tidak kita kenal menancapkan ranting pepohonan diatas lobang itu sehingga ratusan kendaraan selamat karena lubang itu telah diberi tanda. Wahai siapakah gerangan orang yang memberi tanda di lubang itu.

Sadarlah bahwa sesungguhnya tidak ada satu pun kenikmatan tanpa jasa-jasa orang lain yang bahkan tidak pernah kita kenal. Dialah “orang-orang lemah” yang telah berjasa menapaki jalan panjang untuk menghantarkan sepiring nasi diatas meja hidangan. Pantaslah Rasululloh saw. Bersabda, “sesungguhnya yang akan menolong dan memberi rezeki kalian adalah orang-orang lemah diantara kalian”.  Sebuah pesan suci agar kita tidak melupakan jasa dan keberadaan mereka.

Kita lupa, siapa gerangan paraji, dukun beranak, atau bidan yang membantu pesalinan ketika kita lahir. Kitapun sudah lupa siapa nama guru SD kelas satu. Padahal, dialah manusia pertama yang mengajarkan huruf dan angka.

Kita lupa, betapa sepiring nasi yang terhidang diatas meja itu, mempuyai kisah yang sangat panjang. Sejak disemai benihnya di sawah oleh para petani. Setelah panen, gabah itu diangkut di bahu-bahu mereka untuk dibawa ke penggilingan padi, diangkut oleh sopir truk, diangkat pada kuli di pasar, dipajan pada penjual beras, dimasak pembantu rumah, dan kini terhidang diatas meja.

Pantaslah, Allah SWT berfirman bahwa salah satu ciri orang yang bertakwa adalah mereka yang menyadari bahwa pada harta mereka ada hak orang yang meminta mauppun yang tidak meminta (Adz-Dzariaat : 19). Pantaslah Allah SWT menghardik orang-orang yang asyik tenggelam dalam ritual sebagai pendusta agama, bahkan mengancam orang yang shalat dengan neraka Wail karena mereka tidak peduli dengan kaum mustad’afin. Kita diminta untuk bersederkah, mengulurkan tangan membantu meringankan penderitaan orang lain, baik secara terang-terangan atau bersembunyi. Ini semua karena kita diajarkan untuk menjadi manusia yang peduli pada yang lain.

Allah telah menciptakan segala sesuatunya secara berpasangan untuk saling menghargai dan menghormati pasangannya masing-masing. Tidak mungkin ada langit, tanpa bumi. Tidak akan ada presiden tanpa rakyat. Direktur tanpa karyawan. Penjual tanpa pembeli. Maka kehadiran orang lain adalah berkah Ilahi. Kehadiranku, kebahagiaanku, kedudukanku menjadi tidak berarti tanpa kehadiran orang lain. Inilah salah satu inti ajaran langit yang menghantarkan kita untuk memuliakan manusia.

Terkenang kita akan pesan Baginda Rasulullah saw. Dalam khutbatul wada, “sesungguhnya darahmu, hartamu, serta kehormatanmu itu suci…” umat islam diminta untuk menghargai kehidupan (damm-an), harta (amwaal), dan kehormatan (A’rada), yang dalam bahasa sekarang diterjemahkan sebagai, life, property, and dignity. Inilah ajaran tentang nilai-nilai kemanusiaan yang justru telah direncanakan Rasulullah saw. Jauh sebelum dikenalnya Declaration of Human Right.

Menghargai lingkungan hidup, memelihara property negara dan memelihara harga diri kehormatan manusia, siapa dan apa pun status mereka. Karena, kita tidak bisa hidup sendiri. Ajaran kemanusiaan yang telah melambungkan panji-panji Isalam di dalam peradaban manusia.

Ketika seseorang mangkat. Para pengiring jenazah didera haru. Dan setelah proses doa sambutan usai berlalu, handai taulan dan para kerabat itu akhirnya pulang juga ke rumahnya masing-masing. Lantas, adakah di antara kita yang teringat siapakah gerangan para penggali kubur?

ingatlah aku…